
Ponorogo – Sebanyak 245 murid MTs YPI Panjeng mengikuti Ekspedisi Hijau 2026, salah satu dari rangkaian pembelajaran kokurikuler berbasis projek yang diselenggarakan secara bertahap pada 4–6 Agustus 2026 di Taman Keanekaragaman Hayati (Wengker) Ponorogo. Kegiatan yang berkolaborasi dengan Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Ponorogo ini melibatkan 13 guru pendamping dan 6 penyuluh Dinas Lingkungan Hidup sebagai fasilitator pembelajaran.

Ekspedisi Hijau 2026 bukan sekadar kunjungan edukatif, melainkan bagian dari pembelajaran kokurikuler berbasis projek yang dirancang agar murid belajar memahami sekaligus mencari solusi terhadap persoalan lingkungan di sekitar mereka. Melalui pengalaman belajar langsung di alam, murid memperoleh kesempatan menghubungkan konsep yang dipelajari di madrasah dengan kondisi nyata di lapangan sehingga pembelajaran menjadi lebih kontekstual dan bermakna.

Selama kegiatan, murid didampingi oleh penyuluh Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Ponorogo untuk mempelajari berbagai materi dan praktik, mulai dari mengenal keanekaragaman hayati, teknik pembibitan dan penanaman tanaman, pembuatan eco-enzyme, hingga pemilahan sampah sesuai jenisnya. Setiap kelompok juga mengisi lembar aktivitas sebagai bagian dari dokumentasi dan refleksi hasil pembelajaran.

Antusiasme murid tampak sepanjang kegiatan. Mereka aktif mengamati, berdiskusi, dan mengajukan berbagai pertanyaan kepada para penyuluh mengenai pelestarian lingkungan, pengelolaan sampah, hingga cara merawat tanaman. Interaksi tersebut menjadi bagian penting dalam menumbuhkan rasa ingin tahu, kemampuan berpikir kritis, serta keterampilan memecahkan masalah melalui pengalaman belajar secara langsung.

Kepala Seksi Konservasi Sumber Daya Alam dan Lingkungan Hidup Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Ponorogo, Rosmiati, berharap sinergi antara Dinas Lingkungan Hidup dan satuan pendidikan dapat terus diperkuat.
“Kami berharap kolaborasi ini tidak berhenti sampai di sini. Sekolah merupakan mitra strategis dalam menanamkan kepedulian terhadap lingkungan sejak dini. Semoga kegiatan seperti ini terus berlanjut sehingga semakin banyak generasi muda yang memiliki kesadaran dan budaya menjaga lingkungan.”

Sementara itu, Wakil Kepala Madrasah Bidang Kurikulum MTs YPI Panjeng, Darus Solekah, menyampaikan bahwa kolaborasi dengan Dinas Lingkungan Hidup menjadi bagian penting dalam menghadirkan pembelajaran yang relevan dengan kehidupan murid.
“Kami mengapresiasi Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Ponorogo yang telah menjadi mitra pembelajaran bagi MTs YPI Panjeng. Kami ingin murid belajar tidak hanya dari buku dan di dalam ruang kelas, tetapi juga langsung dari lingkungan sekitarnya. Alam adalah ruang belajar yang menghadirkan pengalaman nyata. Ketika murid mengamati, bertanya, mencoba, dan merefleksikan hasil belajarnya, pembelajaran menjadi lebih bermakna dan akan menjadi bekal yang bermanfaat bagi kehidupan mereka di masa yang akan datang.”

Ekspedisi Hijau 2026 juga menjadi implementasi Prinsip Panca Cinta yang dikembangkan di MTs YPI Panjeng, khususnya cinta terhadap lingkungan sebagai wujud tanggung jawab menjaga ciptaan Allah SWT. Melalui pembelajaran kokurikuler berbasis projek ini, murid didorong untuk membangun kepedulian terhadap lingkungan sekaligus mengembangkan nalar kritis dalam memahami persoalan serta merumuskan solusi yang dapat diterapkan di lingkungan sekitar.

Melalui kolaborasi ini, MTs YPI Panjeng menegaskan komitmennya untuk terus menghadirkan pembelajaran yang kontekstual, kolaboratif, dan berdampak. Ekspedisi Hijau 2026 menjadi bukti bahwa pembelajaran tidak selalu berlangsung di balik dinding kelas, tetapi juga dapat tumbuh dari pengalaman nyata yang membentuk pengetahuan, karakter, dan kepedulian murid terhadap masa depan lingkungan.




